Menyesal

​Saya pernah merasa tersesat di dunia yang saya ciptakan sendiri. Saya pernah merasa berjalan di atas bara api yang nyalanya sengaja saya hidupkan. Bahkan saya pernah merasa terbius oleh racun yang saya tenggak, kemudian saya sadar dan ingin kembali waras walau zat mematikannya telah sampai di tenggorokan.

Arggh ! Saya menyesal !

Hal konyol yang telah saya perbuat, hendaknya menjadi suatu kepuasan bagi saya. Namun tidak. Penyesalan selalu membuat hal yang terasa nyaman di awal menjadi keluputan yang berakibat selalu menyalahkan diri sendiri.

Lantas mengapa harus berbuat konyol ?

Kebaikan Yang Mana (?)

​Menurutku, telah banyak orang yang mengenal kebaikan. Bahkan di setiap insan yang terlahir, oleh Nya telah ditiupkan takdir yang ahsan. Sehingga bagi diriku dan mereka, sebenarnya kebaikan adalah hal yang ringan untuk dikerjakan.

Dalam perjalanan menuju kebaikan, tak banyak orang yang tahu arti dari memperjuangkan. Bahkan dari apa yang telah diperjuangkan, kebaikan itu ia rasakan tak kunjung dijumpainya. Itu yang membuat orang enggan memperjuangkan.

Tak sedikit pula orang ragu dengan kebaikan yang hendak ia perbuat. Karena baik bagimu, tak berarti baik bagiku. Kita merasa kebaikan dari-Nya, menjadi tidak baik bagi kita. Karena jika kita tahu, kebaikan tak ada dasar untuk mengukurnya. 

Lantas manakah dalil yang menentukan kebaikan bagi semuanya ? Agar menjadi baik bagimu, berarti baik bagiku. Dan takdir-Nya bisa kita rasakan sebagai keberkahan bagi kita. 

Tidak bisa seperti itu, karena kebaikan berarti memperjuangkan. Dan hasil dari yang diperjuangkan pasti berbuah kebaikan. Entah kebaikan yang mana.

Masih Sendiri

​Tempat duduk di pojokan tetap menjadi favorit. Apalagi untuk bercerita tentang perasaan yang merasa sedang terpojokkan.

Coba lihat aku deh, jujur ya jawab aku ? Apakah wajahku ini bukan termasuk yang meneduhkan pandangan ?

Sontak aku tertawa. Bahkan sruputan jus yang baru saja aku sedot, hendak menerobos keluar dari mulutku.

Pertanyaan macam apa itu ? Seperti itukah rasanya menjaga kesendirian ? Apakah sungguh sangat susah ? Bukannya langkahmu tinggal sejengkal saja ? Malah lihat diriku. Aku baru saja menapaki perjalanan akhir yang ekstrem. Butuh kesungguhan, butuh kewaspadaan. 

Apa yang kau khawatirkan ?

Sesekali aku melihat ia mengusap wajahnya. Terlihat memang benar ada kegelisahan yang ia simpan sangat dalam.

Bukankah memalukan jika aku yang meminta duluan ? Aku harap dia ada waktu untuk berpikir. Kemarin aku tak sempat berpikir matang soal ide itu.

Lalu ?

Ya semoga saja, waktu berpikirnya menjadikan baik untuk kita berdua.

Aku agak menggerutu dalam hati. Bagaimana bisa pikiran yang menjadi pilihan satu orang, bisa menjadi baik untuk dua orang yang saling ingin memutuskan. Bukankah lebih baik memutuskan bersama ?

Memutuskan apa ?

Memutuskan kesendirian.

Banyak Kesamaan

Kalau saja kesamaan kita lebih kamu kenang. Daripada harus saling memaki dan saling menyembunyikan. Apabila kamu paham lirih bahasa kita saling bersautan, mestinya kamu menanyakan. Ataukah seharusnya aku yang menanyakan. Begitukah maumu (?) Kamu tahu diantara banyak kejadian ajaib di dunia, salah satunya adalah untuk mengakui kesamaan kita. Ya kita, tentang aku dan kamu. Banyak kesamaan yang membuat kita enggan dengan perbedaan.

Kopi dan Gerimis

Di sudut itu kami duduk sambil berteman hangatnya kopi. Sesekali mata ini mencuri tatap. Tertegun. Suaranya memecah hangatnya senyap. “Dulu aku memang terlalu fundamentalis, perempuan itu adalah nomor yang kesekian.”
Aku memperhatikan cara ia mengucapkan kalimat itu. Kami sudah lama berkawan. Terlalu bodoh untuk mengiyakan ucapannya. Terlalu ramah menyembunyikan kepura-puraannya. Dan rintik gerimis seolah berlomba jatuh menyentuh tanah. Siapa sangka diantara mereka saling beradu. Ah, memang kopi sungguh kejam. Diantara gerimis itu, ia tetap tak peduli mengepulkan uapnya menghias sepasang cangkir di sudut kedai itu.

Memantaskan Diri (?)

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)”.(QS Ali Imran [3]:14)

Cinta adalah pemberian Allah dan karunia-Nya. Allah menanamkan rasa cinta pada jiwa kita sebagai bentuk dari rasa cinta-Nya kepada kita agar kita berpikir tentang-Nya. Bila cinta adalah karunia Allah SWT, mustahil Allah mengaruniakan sesuatu yang buruk. Cinta bisa dimaknai sebagai potensi maksiat, juga bisa dimaknai sebagai potensi taat.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang”.(QS Maryam [19]:96)

Lantas, apakah cinta hanya sebatang cokelat dan setangkai mawar ? Dalam Islam, pernikahan adalah jalan untuk menyalurkan cinta dengan bertanggung jawab dan penuh komitmen. Pernikahan dalam Islam tidak dianggap ribet bahkan cenderung mengerikan, sehingga banyak yang harus dipersiapkan dan ujungnya membuat lelaki takut menikah. Tapi tidak pula Islam memudahkan pernikahan sehingga bisa dipandang sebelah mata dan seenaknya. Pernikahan hanya memerlukan kemampuan bagi yang menjalankannya.

“Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa itu dapat membentengi dirinya”.(HR Al-Bukhari dan Muslim)